yrDJooVjUUVjPPmgydgdYJNMEAXQXw13gYAIRnOQ

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Nyeri Dada Usai Minum Soda, Tanda Bahaya?

soda-kola-doktersehat
Photo Source: Flickr/trentenkelleyphotography

DokterSehat.Com– Minuman bersoda memang sangat menyegarkan untuk dikonsumsi kapan saja, apalagi jika suhu udara cenderung cukup panas. Masalahnya adalah kita terkadang merasakan sensasi kurang nyaman dan nyeri dada setelah mengonsumsinya. Apakah hal ini menandakan bahaya kesehatan?

Penyebab sensasi nyeri dada setelah minum soda

Pakar kesehatan menyebut minuman bersoda sebagai minuman yang diberi tambahan karbondioksida. Sayangnya, keberadaan karbondioksida ini bisa menyebabkan sensasi nyeri pada dada, apalagi jika dikonsumsi dengan berlebihan.

Sensasi nyeri dada ini berasal dari penumpukan gas karbondioksida dalam jumlah yang banyak. Hal ini akan memicu tekanan berlebihan pada saluran pencernaan, termasuk yang berada di bagian dada. Tekanan inilah yang kemudian memicu munculnya sensasi nyeri. Jika hal ini juga merangsang produksi asam lambung lebih banyak, maka akan memicu sensasi terbakar yang bisa saja menjalar hingga ke kerongkongan.

Selain itu, sebagian orang juga akan mengalami gejala tidak nyaman pada perut seperti kembung, penuh, hingga sensasi mual-mual. Hal ini juga dipicu oleh penumpukan gas karbondioksida didalamnya.

Apakah sensasi nyeri dada setelah minum soda berbahaya bagi kesehatan?

Pakar kesehatan Aly Rahimtoola, MD, dari Providence Heart Clinic, Amerika Serikat menyebut kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda dalam jangka panjang bisa membahayakan kesehatan. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan gula di dalamnya.

Selain itu, jika kita kerap mengalami asam lambung tinggi yang memicu nyeri dada, dikhawatirkan akan memicu munculnya luka pada lambung atau kerongkongan. Kondisi ini juga tidak bisa disepelekan.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard School of Public Health dan dipublikasikan hasilnya dalam American Heart Association Circulation Journal selama 22 tahun ini, dihasilkan fakta bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda sebanyak 60 ml setiap hari sudah cukup untuk meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner hingga 20 persen.

Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 43 ribu pria ini, ditemukan fakta bahwa minuman bersoda juga bertanggung jawab pada masalah kegemukan dan risiko tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan minuman bersoda dalam meningkatkan jumlah hormon ghrelin pada kaum pria. Sebagai informasi, hormon ini adalah yang membuat kita merasa lapar.

Jika kita mudah lapar, maka keinginan untuk makan bisa berlebihan dan akhirnya meningkatkan berat badan. Selain itu, minuman bersoda juga biasanya memiliki kandungan natrium yang tinggi. Faktor-faktor inilah yang kemudian meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung koroner.

Berbagai bahaya minuman bersoda lainnya

Selain bisa menyebabkan nyeri dada, peningkatan berat badan, dan risiko terkena penyakit kardiovaskular, pakar kesehatan menyebut ada banyak sekali bahaya lain yang bisa didapatkan jika kita rutin mengonsumsi minuman bersoda.

Berikut adalah bahaya-bahaya tersebut.

  1. Tidak baik bagi kesehatan ginjal

Penelitian membuktikan bahwa rutin minum minuman bersoda dua kali sehari sudah mampu meningkatkan risiko terkena kerusakan ginjal. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan pemanis buatan, pewarna, dan asam fosfat.

  1. Meningkatkan risiko diabetes

Kandungan gula di dalam minuman bersoda yang tinggi bisa memicu gangguan sensitivitas insulin yang akhirnya berimbas pada peningkatan risiko terkena diabetes.

  1. Bisa menurunkan kekuatan tulang

Kandungan asam fosfat dan kafein disebut-sebut mampu meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Hal ini disebabkan oleh menurunnya proses penyerapan kalsium di dalam saluran pencernaan.

  1. Bisa memicu kerusakan gigi

Sebagaimana makanan dan minuman manis pada umumnya, hobi mengonsumsi minuman bersoda bisa membuat risiko terkena masalah gigi berlubang meningkat.

  1. Bisa merusak hati

Kandungan bahan kimia di dalam minuman bersoda bisa meningkatkan risiko penyakit atau kerusakan hati dengan drastis.